Gambar Gereja & Anak2x
Halaman Depan
Keangkuhan Kemakmuran PDF Cetak E-mail

“Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perakpun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak." (Ulangan 17: 17).

Hanya sedikit saja pria atau wanita yang pernah memiliki begitu banyak – atau kehilangan begitu banyak – seperti yang dialami Salomo. Tahun-tahun awalnya tidaklah bercacat. Akan tetapi lambat laun dia mulai berpikir seperti raja-raja dunia lainnya, mencari kekuatan politik dengan jalan menikahi wanita-wanita dari negeri-negeri sekitar. Ia rasionalisasikan bahwa penyatuan-penyatuan politik seperti ini akan memperkenalkan Allah yang benar kepada bangsa-bangsa ini.

Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa teladannya akan membawa ratusan istri tersebut dari penyembahan berhala kepada suatu pengetahuan yang benar tentang Allah. Tetapi ini suatu harapan yang sia-sia!

Salomo mengira bahwa ia cukup kuat untuk melawan pengaruh dari para wanita kafir ini, akan tetapi apa yang terjadi membuktikan bahwa dia salah. Begitu pelan proses kemurtadannya itu sehingga sebelum dia menyadarinya, ia telah mengembara jauh dari Tuhan. Suatu ambisi untuk mengungguli semua bangsa-bangsa lain di dalam kekuasaan dan kemegahan menjadikan Salomo menyimpang, demi maksud-maksud kepentingan pribadi, karunia-karunia surgawi yang telah telah diberikan kepadanya untuk dipakai bagi kemuliaan Allah.

Dari pemimpin yang paling bijaksana dan penuh kemurahan, Salomo merosot menjadi raja yang semena-mena dan kejam. Dia menuntut pajak demi pajak kepada bangsanya untuk mendukung kemewahan kepemimpinannya. Lebih buruk lagi, demi membahagiakan istri-istri itu, Salomo mendirikan kuil-kuil penyembahan berhala di bukit Zaitun, dimana cara-cara kekafiran yang paling rendah dipraktikkan. Dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dia berusaha untuk menyatukan terang dan kegelapan. Dia menjadi lemah dan tak berdaya dan bahkan menyambut keraguan-keraguan ateistik.

Pokok Pikiran: “Di tengah-tengah kemakmuran ada bahaya yang tersembunyi. Di sepanjang zaman, kekayaan, kehormatan telah senantiasa disertai dengan resiko terhadap kerendahan hati dan kerohanian. Bukanlah mangkuk yang kosong yang sukar untuk kita bawa; adalah mangkuk yang penuh sampai meluap yang harus diseimbangkan dengan hati-hati. Kesusahan dan serangan musuh bisa menyebabkan dukacita, akan tetapi kemakmuranlah yang paling berbahaya terhadap kehidupan rohani. Kecuali manusia itu berada senantiasa di dalam pengabdian kepada kehendal Allah, kecuali dia dikuduskan oleh kebenaran, secara pasti kemakmuran akan membangkitkan kecenderungan alamiah untuk sombong” (Prophets and Kings, hlm.59, 60). 

Pelajaran Hari Ini: Bahkan keputusan-keputusan yang “kecil” secara lambat laun dapat memimpin kepada kesombongan dan kemurtadan. Ambisi yang tidak suci adalah salah satu daya tarik setan yang paling berhasil.

Ditulis oleh: Herbert Edgar Douglass.